Sunday, October 25, 2015

Antara Jarak dan Kebenaran

Bila sebuah pohon jatuh di depan Anda, Anda bisa mengatakan bahwa pohon itu jatuh.
Namun apabila pohon itu jatuh di sebuah hutan dan Anda tidak melihatnya, apa berarti pohon itu tidak jatuh?

Hanya karena Anda tidak melihat, bukan berarti hal itu tidak ada.
Hanya karena Anda tidak melihat, bukan berarti hal itu tidak nyata.

Saya sungguh terusik dengan kebiasaan banyak orang yang lebih percaya pada apa yang sering mereka dengar (frekuensi) biarpun dari orang yang tidak credible, daripada apa yang mereka bisa cek sendiri (ini kan jaman teknologi, hampir semua bisa dikonfirmasi kan?), tapi saya lebih terusik lagi bagaimana orang bisa mempercayai seseorang yang lebih sering hadir di depan matanya, lalu membutakan diri dari kebenaran.

Hanya karena orang yang dibahas tinggal ribuan kilometer jauhnya, bukan berarti nilai kebenaran berubah - bisa dibengkokkan atau diputarbalikkan.


Tentu saja, kita tidak bisa menuntut orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap kita untuk mengkonfirmasi sesuatu yang mereka dengar dari orang yang mereka temui sehari-hari, apalagi bila orang tersebut adalah story-teller berbakat, yang pandai merangkai kata dan 'fakta' menjadi sebuah cerita yang masuk akal.

Tapi alangkah mengecewakannya bila orang-orang yang tadinya peduli pada kita pun ikut mempertanyakan kebenaran dan apa yang terjadi akibat kisah palsu si pendongeng tersebut.

Saya akhirnya melihat sendiri, bagaimana jarak bisa memberi ruang pada ketidakbenaran.

Saya pun heran, kok ada orang yang begitu aktif berperan sebagai pendongeng kisah-kisah tidak benar, mengambil tokoh-tokoh yang dikenal lalu diberi karakternya sendiri, dijungkirbalikkan, diceritakan dari perspektif yang asing lalu diceritakan sebagai hiburan. Tokoh-tokoh yang namanya diambil tanpa sepengetahuan dan sepertujuan, hanya bisa terkejut saat namanya terpapar pada kisah yang bahkan tidak mereka kenali.

Tokoh-tokoh ini, ribuan kilometer dari pendongeng, tentunya menjalani kehidupan mereka dengan berbagai drama dan juga kebahagiaannya, tanpa merasa perlu memberitakan atau mendongengkan kisah mereka kepada ribuan orang.

Sekian banyak bab kehidupan yang tidak mudah, lalu dicuplik dan dikutip beberapa bagian kecil oleh pendongeng, diberi asumsi, opini, dan beberapa khayalan, lalu diplintir menjadi kisah baru yang terdengar spektakuler dan asyik dibicarakan saat makan malam.

Lalu apa yang bisa dilakukan tokoh-tokoh tersebut selain marah atau sedih, di saat pendongeng memutarbalikkan kebenaran hanya demi hiburan dan membawa tawa bagi orang-orang di sekitarnya (dan mungkin demi alasan lain yang tidak dapat orang lain pahami)?

Sungguh, sekarang pun saya tidak tahu.

Akan tetapi ini yang saya tahu dan saya percayai;
bahwa absensi bukan semata yang menentukan besarnya nilai kebenaran atau layaknya mendapat kepercayaan.
bahwa estafet bunyi selalu berakhir dengan distorsi.
bahwa kebenaran yang utama akan menjadi seperti cahaya - bersifat lurus; bisa ditutupi tapi tidak bisa dibelokkan, pada akhirnya akan menjadi terang.

Bahwa jarak tidak seharusnya menggantikan kebenaran.

Friday, October 23, 2015

Mereka Yang Tidak Kembali

Agak tergelitik dengan ucapan "Balik ke Indonesia, bangun negara."

Sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di negara lain, saya ga jarang mendengar ucapan tersebut, dan tak jarang disertai dengan keprihatinan bahwa banyak orang Indonesia yang brilian yang memutuskan untuk bekerja di luar negeri, bahkan berganti kewarganegaraan dan menetap di negara lain.

Sayang? Mungkin.
Kalau kita berpikir bahwa bangsa harus selalu dibangun dari dalam.
Kalau kita berpikir bahwa nama Indonesia harus selalu diharumkan oleh kelompok bangsa yang berdiam di alam Indonesia.
Kalau kita berpikir bahwa mereka yang tidak berada di Indonesia tidak juga mencintai Indonesia.

Beberapa bulan yang lalu pintu apartemen saya diketuk seorang tetangga (orang Austria) yang memberikan sebotol wine (sebagai kompensasi renovasi yang menimbulkan keributan), dan saat ia bertanya darimana saya berasal, dia segera tersenyum lebar dan mengatakan bahwa dia mengenal Indonesia cukup baik. Dari mana? Karena ia pernah memiliki kolega orang Indonesia, hubungannya baik, bahkan dia memiliki sebuah buku mengenai demokrasi di Indonesia sebagai hadiah.

Now, think about it for a minute.


Whatever you do, wherever you do it, of course it will be affiliated with things that you are. Memang kadang rasanya nggak adil, saat ada orang Indonesia yang melakukan sesuatu yang tidak baik, lalu semua orang Indonesia terkena getahnya; tapi satu perbuatan baik yang kita lakukan sebagai orang Indonesia pun bisa memberi efek bagi nama bangsa.

Banyak orang Indonesia yang saya kenal telah menetap puluhan tahun sebagai warga negara bangsa lain, tidak melupakan ke-Indonesia-annya. Mereka bergaul dengan orang berbagai bangsa lain dan berprestasi secara perorangan, dan mendapatkan rasa hormat dari teman dan koleganya. Apakah orang-orang ini lalu layak dikatakan tidak mengharumkan nama bangsa?

Some people go home, some people build their homes somewhere else.
I don't think we should mind.


If they're happy with their lives, go support them.
Kenapa kebaikan dan kesuksesan harus dibatasi oleh kenegaraan? Kalau seseorang bisa hidup baik, sukses, dan bahagia di negara lain, mengapa tidak? Bukankah mereka justru ikut menjadi duta bangsa, membuka pandangan orang lain mengenai Indonesia? Kalau mereka bisa berbagi kebaikan dan kebahagiaan pada orang lain dan tidak eksklusif pada orang Indonesia saja, bukankah hal itu juga baik?

Jangan sampai kita malah menghakimi mereka sebagai orang-orang yang tidak peduli pada bangsa, menolak atau menyangkal keberadaan dan akar mereka. Tentunya, jangan sampai juga mereka juga merasa dihakimi dan ditolak oleh bangsanya sendiri.

Pada akhirnya, bukankah yang penting adalah kita sebagai manusia? :)


Sunday, September 27, 2015

Teach your daughters to dress properly, but also teach your sons to think properly

Saya lama menahan diri untuk tidak menulis mengenai hal ini hanya karena saya takut terlalu terbawa emosi; tapi berhubung sepertinya menulis adalah terapi anger management yang cukup baik; here we go.

I cannot stand being told what to wear - and judged for it - by men. In Indonesia.
Like, clean up your mind, people!

Sungguh berulang kali darah menggelegak di saat ada berita perkosaan atau pelecehan seksual, lalu komentar lelaki adalah; "Makanya tuh, pakai baju yang tertutup."

You know what I think?

I think we have spent decades telling our daughters how to dress and never to our sons how to respect and protect women.

Jangan salah, saya pun sadar pentingnya berpakaian dengan baik dan proper; bukan karena saya takut terhadap ancaman lelaki; namun karena saya belajar menghargai tubuh saya sendiri. Belasan tahun di sekolah Katolik yang konservatif menanamkan bahwa tubuh ini adalah hal yang suci. Maka perlu dirawat, dijaga, dan dilindungi. I don't even wear short pants because I am not comfortable with it.

Tapi saya pun merasakan ketakutan saat berjalan di tempat umum, karena saya memiliki lekuk tubuh perempuan. Tak jarang saya mengenakan pakaian tertutup lengkap dengan jaket yang sama sekali tidak ketat, dan tetap mengalami pelecehan seksual secara verbal.

So I think, the problem is not in the way women dress. It is in the way the men think.


I hate to compare; but what the hell, never once I got a sexually abusive comment for dressing up here in Vienna. Women wear tank-tops, short-pants, and not only they are safe from abusive comments, they even have the right to call police if they got one (and the police WILL help the women who feel abused). And it is not because the women are not sexy enough; it is because the men are taught to respect. Bahkan pandangan mata abusive (seperti melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, yang sering dilakukan lelaki di Indonesia) pun jarang saya temukan.

Lebih kesal lagi, adalah ketika melihat gaya berpakaian perempuan di sini (Eropa), lalu lelaki Indonesia menghakimi dengan berkata bahwa perempuan Eropa itu terlalu terbuka, tidak proper, tidak pantas, dllsb yang intinya tidak baik. Padahal, mereka berpakaian demikian karena mereka ingin dan berhak melakukannya! Anda, sebagai lelaki, tidak punya hak untuk mengaturnya, menghakiminya, apalagi melecehkannya.

What I am saying is; first, of course we should tell our daughters to respect their own bodies. Di mana-mana mau di Barat Timur Utara Baratdaya juga orang yang telanjang jalan-jalan itu aneh (!). Tentunya ada norma yang layak untuk diikuti, dan wanita selayaknya memahami hal itu sebagai bentuk cinta dan penghargaan terhadap dirinya sendiri.

But, we have to really teach our sons to respect women. Untuk tidak menghakimi berdasarkan pakaian. Untuk menghargai mereka dan tidak melecehkan. Untuk tidak memandang wanita sebagai objek yang bisa diatur sesukanya. Untuk tidak berpikir sembarangan dan bertindak sembarangan pada wanita. (oh dear, I really hope not all men are like that)

Just stop it. We are all humans, aren't we?


#weeklyrants #letmegetitout #angermanagement

Tuesday, September 1, 2015

Punya Tujuan

Banyak orang bilang -setiap kali saya mengemukakan suatu ide- "Wah, sulit."

Mengingat saya bergerak di bidang seni yang 'hidup' dan tidak stagnan, saya sering merasa gemas alias greget mendengar hal semacam ini.

Kenapa?

Karena percayalah, lebih sulit jika hidup itu nggak punya ide.

Melihat sedikit ke belakang (jangan banyak-banyak, kan katanya lebih baik lihat ke depan), momen-momen terburuk dalam hidup saya (seperti yang saya alami baru-baru ini) adalah ketika saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan alias nggak punya tujuan.

Pilihannya jadi antara melakukan apa yang disuruh, atau tidak melakukan apa-apa. Kalau sebentar sih nggak papa, tapi kalau selamanya?


The thing is,

Hidup ini keras, Bung.


Kayak menempuh jalanan Jakarta yang macet, berdebu, banyak orang yang nyerobot, lebih banyak yang nyolot (#curcol). Kalo kita nggak punya tujuan, ngapain jalanan kayak begitu ditempuh?

Kalo kita ga punya tujuan, buat apa mengatasi segala rintangan, nggak tahu pula sampainya butuh berapa lama...

Ya memang, kadang tujuan pun jadi harus berubah kalo hambatannya udah fatal semacam banjir, jembatan roboh, bumi terbelah...well you know what I mean. :p

Tapi saat tujuan akhir itu jelas, mau jalanan kayak apa juga kita pasti bisa jalani. Seringkali harus muter-muter. Kadang harus berhenti dulu untuk istirahat. Sesekali harus minta bantuan orang untuk tanya jalan. Nggak jarang harus diingatkan. Kadang bahkan harus ganti transportasi!


Tujuan - yang kasih semangat saat langkah terasa berat.

Tujuan - yang kasih energi saat ditolak sana-sini.

Tujuan - yang membuat kita bisa memaknai setiap perjalanan.


Kadang tujuan itu berupa suatu pencapaian. Atau suatu pengabdian. Atau suatu keadaan. Atau suatu benda. Atau suatu kondisi jiwa. Atau suatu tempat. Atau suatu sosok.

But you have to have something to get you through.

And when you have found it, yes, believe that the Universe will conspire to help you.

Semangat! :)


#athoughttoremember
#getthrough #motivasiulang

Tuesday, August 25, 2015

Komentar Fisik


Belum genap dua bulan saya hidup kembali di Jakarta, dan sudah tak terhitung remarks fisik yang saya terima.


Like, why is it here so normal to talk about somebody's gaining weight or stuffs?


Mungkin karena sudah agak lama tidak mendengar komentar atau candaan yang bersifat fisik, hati saya jadi agak miris. Kenapa? Karena saya mulai mengerti mengapa saya tumbuh sebagai perempuan yang sangat insecure mengenai tampilan fisik.


For so many years I never feel pretty.
Worse; I always feel ugly.


Dan saya yakin saya bukan satu2nya.
Dari iklan pemutih kulit yang ada hampir tiap menit sampai omongan tante2 saat bertemu, semua membandingkan satu perempuan dan lainnya. Melalui fisik. Indonesia, yang menurut saya perempuannya luar biasa cantik-cantik dan sangat beragam, tampaknya adalah bangsa yang membuat banyak perempuannya tidak merasa demikian.


Pengalaman pribadi saya adalah saat orang di Indonesia mengomentari dengan tanpa rasa bersalah bahwa saya pendek dan gemuk (which is true, btw) dan menyarankan agar saya diet supaya terlihat lebih baik.
Sementara teman saya dari negara lain mengajak saya berdiet dan olahraga untuk kesehatan.


Belum pernah sejauh ini saya memiliki teman dari negara lain yang membuat saya merasa bersalah untuk menjadi pendek dan gemuk dan tidak cantik karena mengganggu estetika pemandangan (???), atau mendapat komentar negatif dari lawan jenis secara frontal mengenai fisik, atau mendapat perlakuan kesopanan yang berbeda karena tidak menarik.


Maybe it is a cultural thing.
I don't know.


But really, why should we do that?
Why should we crush somebody's confidence by saying those things, though it is just for a laugh?


Is a laugh worth years of insecurities or destructive feeling of not pretty enough?
Even if the person laughs too, you know.


Saya pernah mengeluarkan komentar lucu terhadap fisik saya sendiri di depan teman-teman di Eropa, dan saya ingat betul bagaimana mereka menghardik saya untuk tidak melakukan itu. Saya bersyukur untuk bebas dari komentar fisik karena memang hal itu dianggap sangat tidak sopan. Dalam beberapa tahun insecurities itu pudar, dan bahkan saya justru termotivasi untuk hidup sehat tanpa iming2 supaya cantik.


So, sering lihat bule nggak masalah memakai you-can-see walau tangannya besar? Atau rok mini walau pahanya besar? YA MEMANG HARUSNYA NGGAK JADI MASALAH SIH.


You are beautiful.


Pujian yang diucapkan antar teman saat bersiap pergi keluar.


You are beautiful.


Kalimat yang diucapkan orangtua pada anaknya.


You are beautiful.


Kamu mungkin sedang berjuang untuk diet demi kesehatan. Semangat ya.


But you are beautiful anyway.


(lama2 jadi pengen nyanyi lagunya Cherrybelle)


If only we do that more.
Wouldn't the world be a little more wonderful?


#justathought #butreally #stopit #letmeeat

Tuesday, February 24, 2015

Be An Audience

Performer and audience are two things that seem different.

I know there are the diva jokes where performers do not want to be audience; they want to be seen, not to see. But I cannot, cannot imagine people making music without listening to any music, or see concerts. Because they belong together; to absorb, to learn, to enjoy, and to create.

It had always bothered me before but I just had no time writing this down; but I see so many musicians do not want to come to concerts because of reasons such as:
- I do not know any of them (and do not bother to find out if they are good or not)
- I have no money (even though the ticket costs the same as my coffee)
- Those people never show up in MY concert as well
- The performers belong to that community and I do not want to be seen as one of them

(Or those who come only to make comparisons to what they are doing, ugh. I don't even want to go there.)

Okay. I do not want to complain so much; but if you want to enjoy classical music, you really have to sit through a live concert, bro.

And this relates to the whole community itself, it is heartbreaking to see how many musicians actually make music (particularly in my hometown) but do not want to spend money to watch other concerts. I understand that some people have no interest in music, but if you make music, you know how devastating the process can be (regardless of all the fun as well), right? The least thing you can do is to come and listen to that music.

Take the risk.
Buy the ticket.
Sit through the concert.
Appreciate music.

Be an audience.
(you'll be surprised how wonderful it can be)

Saturday, July 26, 2014

If You Have The Choices, Choose

No, no, no. Women do not HAVE TO follow the husbands.

This sentence was popping into my mind again and again when I heard a conversation where somebody is telling a 20-y.o. girl about relationship, and I really regret not having interrupted the conversation and say it out loud.

I don't know about you guys, but I think everybody needs to go for their dreams and hopes and do what they are most passionate about; when that means being wherever your loved one is, then go for it. But it doesn't have to be the ONLY way.

This is 2014, most women have the privilege to choose what they can do with their lives. Yes, some might want to travel the world. Yes, some might want to be a CEO. Yes, some might want to be a housewife and take care of the children. Yes, some can work and still take good care of the house. Yes, some don't even want to have children. Yes, some might even choose to be single forever. So what? Why not? Life is a choice, if you believe in it, you can do it, I say go for it.

Do you know what bothers me sometimes?
That some women don't have any choice.

Some women are forced to be married young, or forced to leave a job, forced to live alone, forced to do abortion, forced to do things without another choice.

So when a girl so young pops out, having so many choices, I personally do not think it is wise to say what she has to do, especially when the choice is so given that she should sacrifice whatever she plans to do when she got married. WHY?

I'd say you should find the person that is willing to compromise with you, so that both can have your ways to fullfill your destiny. Of course sometimes one has to give more, but a healthy relationsip is when both grow together. Especially because we are not living in the '40s and we do have choices.

Real love makes you a better person.
What kind of person is that? You decide.

Monday, December 23, 2013

What If This Whole Life Is Just A School?

I am always interested in education, and very unlikely, lately I am fascinated by curriculums. A talk by Sir Ken Robinson in 2009 pretty much opened my mind about individualized curriculum and how creativity should be treated at the same importance as literacy. Another talk that gave me shivers was Marianne Williamson's, in which she talks about "life curriculum".

Instead of thinking about life as crazy old lady who likes to see us suffer, wouldn't it be great to see it as a lifelong school?

To see life as a school is to believe that everything happens for us to learn something, and as Marianne Williamson says, "Everybody has their own highly individualized curriculum, designed exclusively just for us." why not think of it this way?

In life school, Some will have different lessons, and maybe same material in different timings. Somebody might have to learn about patience at the age of 5, waiting for her brother to give her a toy, and somebody else might have to learn at 32, trying to be pregnant but haven't been granted one for years. Somebody might have to learn about perseverance for 15 years of hardwork, while somebody else should learn how to maintain 15 years of marriage.

In lifeschool, we are taught different things in various ways. And as all the classes we are familiar with, there will be tests. Problems. These problems might be solved differently, one might require more time than the other, one might have to work in groups, one might only able to do it alone.

At one specific moment, two friends might go through very different kind of problem. One might think it is unfair, but with highly individualized curriculum, there must be something that someone urgently needs to learn about for that particular moment. Maybe one is 'on holiday' while the other is 'in exam'. Some might face big problems in order to get bonus grades. In life, people go through problems like abuse, addiction, or great loss. But have you ever met those people who went through such things, learned the hard way, became enormously inspiring, and affected more people than they have ever imagined?

So maybe, just maybe, when problems show up, instead of asking, "What have I done to deserve this?" which will usually lead to self-hatred or anger toward life (and the Source of Life), why not asking, "What should I learn from this by the end of this?"

I know, that sounds extremely optimist and really hard to deal with when we are actually in the middle of bitter experiences. I, of all people, am one of those people who cry for days for little problems and used to be so negative toward life that I even saw all good moments as a bridge to another suffering.
But I asked myself, why not try to think of life this way? If we believe that life is much bigger than us and it wants nothing but to teach us something, don't you think we will be able to walk through life with lighter steps?

Good teachers would be happy when the students get good grades, not because the exam is easy, but because the students earn the grades. Why not think that life cannot hardly wait to give you good grades, but it is waiting for us to earn it? It is joyful when we keep showing up and try, it is joyful when we attend class consciously, aware of the information and the process we are going through.

So...don't be a dropout at this lifeschool. Maybe we need holidays. Maybe sometimes we skip classes. But persevere, and believe that in graduation day, we should show up excitedly, knowing the teachers will line up to congratulate us for being a great student.



http://www.youtube.com/watch?v=iG9CE55wbtY    Sir Ken Robinson; Do schools kill creativity?
http://www.youtube.com/watch?v=FC3bCLiiqpA     Marianne Williamson on Oprah's Super Soul Sunday

Facebook Is NOT Your Best Friend

How many friends do you have on Facebook?
I have 1,151.

Do you know how many stable relationships people can have, according to Dunbar's Number?
150.

Do you know how many people who knows everything about me?
Four.

I used to be a Facebook-status-whore;
I put everything of me on Facebook; my problems, my happiness, my sadness, my depressions, my struggle with depression, my mood-swing, my broken heart.

Somehow I did not learn from my high school experience when I shared my deepest secret with some people who turn out to think that I was seeking for attention and hated me for it (and by the way, I then asked for their forgiveness for being so annoying).

Years gone by after that particular moment and still I put myself out there on Facebook, giving myself on a plate to be judged and seen through by everybody (1,151 people, that is), just because I want to be completely honest in life, because I want to scream without any sound, never knowing that the scream created huge wave-effect, coming back to me and gladly drowning me in the deep sea of terror and unworthiness.

I found people talk about it, not in an empathic ways. Once again some says I was seeking for attention, and the only attention I was getting is pity, which might be the least thing I need when I am in the middle of a huge self-esteem and self-worth problem.

But then I found myself what they call best friends.
In different levels and moments of my life, they keep showing up, they know the bad and the ugly, they see me in tantrums and breakdowns, and still they stand up for me against others. They didn't post any comment on my status, but texted me instead to offer their ears for my story, offer their energy, time, and space to help me get through it, though sometimes the only thing they can do is just to listen. But most of the times, it is enough.

They are the people with whom I share my life with and take it as an honour.

There will never be 1,151 people in your life who would actually do that.

You might be loved for your work, for your vision, for your words, for your thoughts, and you might impress thousands or millions. But the most sacred place in your heart should not contain all of them.

Share your story only to people who earn the right to hear your story. --Brene Brown

It doesn't mean we have to keep our life secret to everybody, because you have no idea how many people might be inspired by what you are going through, and sometimes you will find out how many unexpected people would actually support you during tough times.

But a story compromising your sense of worth, a story you know will affect you immensely, a story you are actually afraid to tell; choose wisely whom you share those stories with. Because (I learned the real hard way, and still learning) we are all worthy of love and belonging, and sharing that kind of story with the people who do not care will only add the salt to the wound.

Do not cast your pearl before the swine.

Stop pouring your whole heart out on Facebook.

Choose wisely.

Somebody who loves you for all you are might just be a phone call away.

Wednesday, July 17, 2013

Menghitung Detik (bukan Krisdayanti)

Ada saatnya kita menghitung hari (kalau kata Krisdayanti), tapi sekarang kita hidup di jaman menghitung detik.

Lihatlah Twitter, kita bisa mendapat informasi mengenai kejadian ratusan ribu kilometer dari tempat kita tinggal dalam hitungan detik. Dengan berbagai gadget dan aplikasi semacam Blackberry, Whatsapp, YM, kita dapat dengan mudah mengirimkan informasi atau berbicara satu sama lain dalam hitungan DETIK.

Di sini saya tidak akan membahas soal betapa bergunanya teknologi yang cepat dan mudah ini dalam hidup kita, karena kita semua tahu betapa bergunanya hal itu dalam pekerjaan, pelajaran, atau hubungan sosial. Akan tetapi, berkaitan dengan post saya sebelumnya, kecepatan lalu-lalang informasi ini juga membuat kita gila. Sungguh. Gila.

Kemampuan kita untuk menunggu berkurang drastis, karena kita tahu hanya butuh waktu sepersekian detik untuk mengirimkan sesuatu. Lihat saja kalau Blackberry Messenger sedang mengalami gangguan, mendadak semua pengguna blackberry menjerit, memaki betapa tidak kompetennya pembuat Blackberry, atau memaki jaringan, atau memaki-maki saja. Saya pun mengalami rasa kesal yang luar biasa saat Whatsapp saya mengalami pending, padahal saya tidak sedang membicarakan hal yang penting. Jangan ditanya lagi saat internet mati. Beberapa bulan tanpa internet sempat membuat saya sungguh stres, seakan terputus dari dunia luar.

Tunggu. Dunia luar itu yang mana ya?


Seseorang pernah mengatakan pada saya, teknologi itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. JRENG. Benar juga, saat tidak ada internet maupun gadget lainnya, saya jadi lebih terfokus pada kesehatan, relasi dengan orang lain yang berjarak dekat dengan saya, dan dengan berbagai hal yang sungguh ada di depan mata. Tapi yang lebih berbahaya lagi adalah; bagaimana kita mengharapkan segalanya jauh lebih cepat dan lebih baik. Seakan kita betul-betul tidak punya waktu untuk mentoleransi kesalahan atau sesuatu yang tidak sesuai aturan.

Saya sendiri sungguh merasakan hal ini; kita semua mulai kehilangan kesabaran.
Kita ingin solusi yang baik; SEKARANG. Ini dunia yang aktif dan proaktif dalam mencari solusi, manusia lebih tergerak untuk melakukan sesuatu, dan itu sungguh baik. Namun seperti segala hal dalam hidup ini, kita juga butuh keseimbangan dalam menunggu atau menghargai proses.

Anyhow, saya tidak mau jadi terlalu filosofis.
Intinya adalah, mari lebih bersabar terhadap BBM yang pending, Broadcast Message yang ga penting, Whatsapp error, atau orang yang menggunakan RT instead of Reply.

Kenapa? Bukan cuma karena itu akan membuat kita tidak cepat mengidap hipertensi atau asam lambung berlebih akibat stres, namun juga untuk melatih kesabaran dan batas toleransi kita. Apalah sulitnya menelpon orang, bila BBMnya pending dan hal yang harus disampaikan penting? Apalah lelahnya menghapus beberapa BM yang memang hoax dari gadget kita? Apakah sulitnya membaca sedikit Retweet di timeline kita tanpa emosi terhadap obrolan yang bukan urusan kita?

Mengapa kita menjadi begitu mudah terganggu oleh hal-hal yang begitu sederhana dan memakan hitungan DETIK?


We actively eliminate things we consider unimportant in matters of seconds.
Kasus Twitter menjadi salah satu hal yang menggelitik. Banyak orang merasa terganggu dengan RT-abuser atau mereka yang kerap menggunakan RT untuk berbicara dengan orang lain sehingga dapat dibaca oleh seluruh orang yang mem-follow dirinya. Pertama; kadang memang itulah alasannya ia menggunakan RT, karena mungkin ada sesuatu yang unik dalam pembicaraan itu, atau kadang orang yang berbicara dengannya ingin di-RT (biasanya fans dari seorang artis akan bahagia bila ucapannya diretweet). Kedua, memangnya Anda butuh berapa jam untuk scroll-through beberapa (belas) twit yang tidak menarik?

Saya rasa hal ini juga adalah cerminan kehidupan kita sehari-hari. Memotong ucapan seseorang karena kita (pikir kita) tahu ke mana tujuan pembicaraannya. Melewatkan detail sebuah artikel karena kita (pikir kita) tahu apa isinya. Tidak datang ke suatu acara karena kita (pikir kita) tahu apa yang akan dilakukan di sana.

We become so sceptical about everything that might surprise us, because we do not have that extra seconds to 'waste'.

But if we just drink coffee in 5 minutes instead of 3,
we walk 10 minutes instead of 7,
we talk for 15 minutes instead of 10,
we might find out that sometimes by wasting some more, we also get something more.


*but if you do take 5 hours to drink a cup of coffee, then forget about this post

The "Apple-Cycle" and Our Fast-Paced World

I am a proud owner of an iPad 1.

I know, it is crazy, isn't it?

I can still remember being so excited having the first iPad, using all the applications and stuffs, playing with it until midnight, and making everyone jealous about it.

Until the iPad 2 came along.

Suddenly there was this madness of grabbing this new gadget, and people instantly forget the first iPad. Not only the new camera or the new iOs or the thinner look of the iPad 2 that created the excitement, it is simply an excitement of a newly developed something coming. People begin to forget the iPad 1. Even in the stores, it was really hard for me to find a new case for my iPad, it seems like everything having to do with the 'old' iPad vanish in an instant. And it is getting worse when the new iPad came along.

And then it occurs to me...what kind of world are we living in?
*I am indeed over-dramatizing everything

I can only imagine being an Apple fan. Being so excited about a gadget, testing all of its features, only to know that when the new one comes along, it is another excitement, another waiting in progress. I am not being cynical, I also like Apple products, but this really fast cycle of waiting and upcoming excitement also takes away my joy and excitement of having the one that I am holding, that actually still functions perfectly. We are so excited about the future that sometimes we lack of gratitude of what we actually have. We are always promised of the new model, new technology, new camera, new operating systems, new stuffs.

It is great to be excited over and over again, but I think we are now living in a world where HAPPINESS has shorter span. The duration of excitement grows smaller. This "Apple phenomenon" is only a great example of what we are facing on daily basis; the time is ticking fast, the world is changing fast, and somehow we are moving real fast. We have newer sets of goals, we are expected to have new innovations.

My iPad is still functioning. Greatly. It still does all the things I bought it for, but now I have to see iPad 2, new iPad, iPad mini, and so on. Barry Scwharz, a researcher who speaks on TED about The Paradox of Choice said that having more choices does not make us happier. It tends to give us higher expectancy of things, because of all these choices, one of them must be perfect. When it is not perfect, we then tend to blame ourselves, why can't I afford the new one, why did I think that way, why did I choose this, why...

Just stop this madness!

You know, I really, really miss the days of Nokia 3310. When we are all excited to play one game; Snakes. When everybody in the classroom talks about their highest score. It is not only the gadget that I miss, but our gratitude toward what we have and the tendency to maintain something more than just months. The urge to REPAIR the old one instead of to BUY a new one. The willingness to hold on. The gratitude of having anything at all.

I know, I am over-dramatizing things. But can you imagine if we are doing the "Apple-cycle" in all aspects of our lives? What if we are doing the cycle for friends or partners? What if we keep looking for the new better upcoming ones? We are so hungry of change, we want it fast, we so want to have better ones...that sometimes we forget that what we have is ENOUGH. Maybe 5 or 10 years from now, it won't be enough anymore. But not months. Not days.

I struggle with gratitude EVERYDAY. But my message (which is also a note-to-self) is just; stop. Look at what you have and be grateful, do not let the wave of other's excitement takes away your own, give more credit to what you are doing and what you are having, because no matter how much excitement the future would bring, it is not present. Give more time to happiness, let it stay longer, do not let the moment slips away because we are too busy waiting for something bigger and (maybe) better.

Oh, by the way, I am still a proud owner of Apple's iPad 1, and also a proud owner of Nokia's Lumia.
One reminds me that the world is constantly changing, and better things are coming fast.
Another reminds me that some things last longer, and to be grateful that they do. :)

link to Barry Schwarz's talk (TED) "Paradox of Choice" http://www.youtube.com/watch?v=VO6XEQIsCoM

Friday, August 17, 2012

Nasionalisme; Romantisme?

Hari ini adalah hari Kemerdekaan Indonesia.

Entah mengapa saya tidak terlalu tergerak untuk merayakan hari kemerdekaan ini. Sungguh, bukan karena saya pesimis terhadap bangsa dan negara ini. Saya adalah satu dari entah berapa banyak pemuda-pemudi yang masih percaya, bahwa bangsa ini sedang berjalan menuju suatu masa depan yang baik, asalkan kita tidak berhenti bekerja, berkarya, berdoa. :)

Saya pun mulai berpikir, apakah saya kurang nasionalis?

Lalu muncul pertanyaan berikutnya, apakah nasionalisme itu?
Jangan-jangan nasionalisme hanyalah sebuah ide romantis dalam hidup berbangsa?

Di Wikipedia baris awal, nasionalisme didefinisikan dengan cara begini;
"Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia."

Dalam pemahaman saya, nasionalisme ditanamkan dan dipertahankan untuk mewujudkan persatuan sebuah bangsa dan negara. Isu-isu SARA yang belakangan ini marak di Indonesia harusnya bisa dengan mudah diredam dengan paham ini. Mengapa? Karena nasionalisme mengajarkan kita untuk memiliki identitas bersama; sebagai satu bangsa, terlepas dari berbagai suku, agama, ras, dan adat-istiadat.

Namun apakah nasionalisme sebegitu krusialnya, di seluruh dunia?

Mengacu pada sebuah pengalaman saya berdiskusi di sebuah kelas bahasa di benua Eropa, saya menarik kesimpulan, bahwa nasionalisme krusial tidak di segala bangsa. Orang-orang Eropa yang berada di kelas saya tidak menyukai saat kita mempertanyakan, darimana asal mereka; apakah asli Jerman, Itali, Norwegia, atau memiliki keturunan bangsa lain. Mereka kurang suka dikotak-kotakkan, karena akan mudah masuk dalam stereotip tertentu.

Sementara, saya bersama teman-teman yang berasal dari Asia (Cina, Jepang, India) terkejut dengan hal ini. Menurut kami, tidak mengakui asal-muasal (ras) itu seperti melecehkan negara dan bangsa sendiri. Seakan-akan malu dengan negara asal. Kami dididik untuk bangga pada leluhur dan tanah air, bagaimanapun keadaannya.

Maka diskusi hari itu pun menjadi semarak. Teman-teman dari benua Eropa mempertanyakan, apakah nasionalisme tidak menjadi berbahaya; karena kemungkinan adanya perasaan eksklusif? Apakah nasionalisme tidak menghambat kehidupan kami yang akhirnya selalu ingin pulang ke tanah air? Sementara teman-teman dari Asia ikut mempertanyakan, apakah dengan tidak adanya identitas kebangsaan kehidupan menjadi lebih mudah? Lalu siapa yang melestarikan budaya? Tidakkah ada 'sense of belonging' terhadap negara dan pemerintahan?

Di penghujung kelas. Kami semua memiliki bahan permenungan, dan pelebaran wawasan. Semua memiliki jawaban dan pandangan yang beragam. Saya ingat seorang teman dari Itali (dia memilih untuk disebut 'orang Eropa' saja) mengatakan; pada akhirnya terlepas dari sebuah asal usul, yang penting adalah menjadi orang yang baik. Mengapa harus membatasi diri pada sebuah komunitas, saat kita bisa melakukan kebaikan pada siapa saja dan berkarya di mana saja?

Lalu, pentingkah nasionalisme itu?

Pada akhirnya, kita masing-masing yang dapat menjawabnya.
Saya, yang terlahir dan bangga menjadi orang Indonesia, masih menganggap nasionalisme itu penting. Karena saya kemudian memiliki sebuah ikatan budaya, ikatan keluarga, ikatan tanggung jawab melakukan sesuatu untuk bangsa, melakukan sesuatu tidak hanya untuk diri sendiri melainkan sebuah komunitas yang lebih besar - yang terlepas dari kotak suku, agama, ras, dan adat-istiadat. Selain itu, dengan memiliki ikatan yang kuat dengan kampung halaman, saya merasa aman. Ke manapun saya pergi, di manapun saya berkarya, saya tahu bahwa di sebuah kepulauan bernama Indonesia, saya punya rumah. A home.

Bagaimana dengan Anda? ;-)

Religius?

Entahlah bagaimana saya mencitrakan diri saya sendiri ini dalam kehidupan sehari-hari.
Saya tidak berusaha membuat suatu gambaran yang ideal agar menarik di mata orang lain, karena toh dengan menjadi apa adanya, saya memiliki keluarga, rekan kerja, dan sahabat-sahabat yang luar biasa.

Namun mengenai citra saya di mata orang, mulai menggelitik saat saya memutuskan untuk mengikuti sebuah kegiatan rohani bulan depan. 

TIDAK ADA YANG PERCAYA. :))

Saya sama sekali tidak tersinggung.
Menurut saya, semua orang berhak memiliki pendapat mengenai kehidupan religius saya. Saya sendiri pun menolak untuk menggembor-gemborkan hubungan saya yang sangat personal kepada Tuhan.

Saya hanya bertanya-tanya, apakah untuk menilai seseorang religius atau beriman, harus dilihat dari berapa kali ia pergi ke tempat ibadah? Haruskah saat kita beribadah, kita mengatakannya pada semua orang, atau minimal orang terdekat? Haruskah kita selalu berbagi pandangan iman kita dengan mengutip berbagai ayat dan menyebut nama-nama Nabi? Haruskah kita menyebutkan dalam berbagai jejaring sosial kegiatan kepemudaan atau perkumpulan doa yang kita ikuti? Haruskah kita begitu aktifnya dalam organisasi keagamaan untuk menandakan kedekatan kita dengan Tuhan?

Saya memahami kebanggaan yang muncul atas dasar sukacita dalam beriman. Mengapa tidak bersukacita, bila hidup dan hati Anda dipenuhi berkat?

Namun apakah itu satu-satunya cara untuk menjadi religius?

Saya hanya berpikir, bahwa religiositas itu sifatnya sesungguhnya universal. Ada nilai-nilai kebenaran yang tidak harus diklaim dengan cara-cara tertentu, dan bila ada yang melakukannya dengan cara yang lain dengan Anda, apakah otomatis menjadi salah?

Entahlah.
Saya hanya merasa, agama mungkin sifatnya komunal, tapi hubungan manusia dengan Tuhan pada dasarnya personal.

Dan tidak semua orang harus sependapat dengan saya. :)

Friday, July 13, 2012

Generasi Pesimis

"The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence over that by the good people."
Martin Luther King, Jr.

Belum lama ini Pilkada Jakarta berlangsung. Muncul nama2 yang cukup menggemparkan, seperti kandidat yang terlihat sederhana namun sepak terjangnya di kota lain cukup signifikan, dan munculnya kandidat2 independen non-partisan. Menarik. Saya sendiri menjatuhkan pilihan dengan berbagai alasan.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas hari ini.
Garis bawahnya adalah: saya memilih.

Sejujurnya saya tidak setuju pada tindakan golput. Ya, memang memilih adalah soal hak, bukan kewajiban. Kita berhak memberikan suara, tapi tidak harus. Namun mendengar alasan2nya, tidak semua masuk akal. Yang paling menyebalkan adalah alasan 'percuma'. Percuma, siapapun yang memimpin, Jakarta sudah amburadul.

COME ON, PEOPLE!
Inikah cerminan generasi yang akan meneruskan bangsa ini? Generasi pesimis?

Bukan cuma soal Pilkada. Sering sekali saya mendengar orang mengatakan kata 'percuma' saat membahas soal negara Indonesia ini. Dan ini fakta yang menyedihkan, karena bangsa ini mulai kehilangan harapan. Yng lebih menyedihkan, bukannya mencari harapan, kita memilih untuk diam. Toh percuma.

Tidak mau bayar pajak; percuma, toh uangnya akan dikorupsi juga.
Tidak mau memilih; percuma, toh siapapun yang memimpin Jakarta sudah berantakan.
Bahkan tidak mau buang sampah pada tempatnya, karena percuma, toh Jakarta akan tetap kotor juga...

Sebegitu rendahnya-kah Anda menilai diri Anda sendiri untuk melakukan perubahan? Dan bayangkan, sekian juta manusia yang berpikir serupa. Tak heran perubahan jauh dari jangkauan. Selalu memandang dan menyalahkan yang di atas. Kalau berbuat salah, menjadikan kesalahan atasan sebagai dalih. Kok saya disalahin, itu pejabat aja lebih salah ga ditangkep?! Heh, urusan dia itu. Anda kenapa ikut2an? Dosa kok cari temen. Karena banyak yang melakukan, jadi saya juga boleh, gitu? Kalo satu negara bunuh2an, saya jadi boleh membunuh juga, gitu? Salah ya tetap salah. Ilegal ya ilegal. Dosa ya dosa. Bukan karena rame2 dosanya jadi patungan...ilmu macam apa lagi itu...

Huh. Jadi marah2 ga ada juntrungan.

Intinya begini; kita semua mampu, berdaya untuk melakukan perubahan dari hal yang paling kecil. Dan bila memang tidak mampu melakukan apa2 dalam hidup ini, toh Anda tidak perlu menyebarkan sikap pesimis Anda terhadap semua orang. Sebuah negara yang hancur lebur karena perang atau bencana bisa bangkit lagi karena ada harapan. Ada semangat untuk maju, dan percaya bahwa mereka bisa maju. Bukan bersungut2 meratapi apa yang hilang dan tidak bisa diambil kembali, atau memberikan judgement bahwa sudah tidak ada harapan lagi.

Membangun dan membenahi Jakarta apalagi Indonesia jelas bukan hal mudah.

But hard is not impossible.
Call me naive and a hopeless romantic, but;
There is always hope, and there is always something we can do about it.

Wednesday, June 20, 2012

Lulusan Luar Negeri

Siapa sih yang nggak bangga jadi lulusan institusi bagus?

Apalagi bila institusi itu memiliki kredibilitas tinggi dan reputasinya 'susah' semacam Harvard, Oxford, dan lain-lain.

Tapi apa sih arti dari sebuah gelar dari institusi luar negeri?

Menurut saya, itu mencerminkan kecerdasan, ketekunan, dan keberanian. Karena kuliah di luar negeri itu sama sekali tidak mudah, bukan sekedar bayar. Saya sedang mengalami masa sulit untuk diterima di sebuah konservatori di Eropa, dan semakin menjalaninya, semakin besar rasa hormat saya pada para lulusannya. Banyak senior saya yang bukan sekedar lulus, namun sungguh berkarya banyak di Eropa maupun Asia, dengan kualitas yang luar biasa pula.

Lebih spesifik, saya bicara tentang para musisi klasik lulusan universitas atau konservatori Eropa. Di sini para musisi Indonesia harus berjuang setengah mati bersaing dengan orang-orang Eropa dalam musik dan budaya Eropa. Menjadi pelajar saja, harus bersaing dengan ratusan orang lainnya. Setelah berhasil melewati audisi performance, masih ada ujian teori musik, piano wajib, dan wawancara. Pada akhirnya dari ratusanorang, mungkin hanya 5-10 orang yang diterima, tergantung kebijakan. Kemudian, tidak semua orang juga mampu menyelesaikan studinya, karena memang berat.

Kembali pada paradigma lulusan luar negeri, menurut saya pada akhirnya yang penting adalah KUALITAS. Pada akhirnya, di panggung, para musisi yang bersekolah maupun tidak, harus menunjukkan kelas mereka, tahun-tahun latihan tersebut...tidak menjamin yang bersekolah lebih baik dari yang lain, dan sebaliknya.

Maka, sungguh mematahkan hati di saat mendengar kisah orang yang MENGAKU sebagai lulusan institusi luar negeri. Betapa mengejutkan!

Pertama, itu sama saja seperti pemalsuan ijazah. Kebohongan. Membangun reputasi dari sesuatu yang semu. Padahal dunia itu sempit loh! Bukannya tidak mungkin Anda akan bertemu dengan orang yang sungguh lulus dari institusi itu, dan kebohongan Anda terkuak.

Kedua, apa arti gelar palsu Anda, tanpa ilmu yang sungguh ditimba? Bukankah berarti Anda memiliki kekosongan ilmu dan pengetahuan yang harusnya didapatkan di institusi itu? Bila kualitas Anda ternyata tidak sebaik itu, maka Anda akan merendahkan institusi yang Anda pakai namanya...Lalu Anda datang pada sebuah publik yang tidak banyak memiliki akses terhadap perkembangan dunia musik klasik di luar negeri dan meracuni mereka dengan apa yang Anda buat sendiri. Betapa kejamnya.

Ketiga, betapa tidak adilnya pada orang-orang yang sungguh menimba ilmu hingga lulus! Mereka yang sungguh berjuang dalam audisi demi audisi, merasakan pahitnya ditolak, stres mencari tempat, belajar sungguh-sungguh, berjuang dan berlatih...lalu Anda datang dan MENGAKU telah melakukan itu semua.


Begini ya.

Kalau memang Anda berkualitas baik, kenapa juga harus mengaku memiliki sebuah gelar? Kalau memang Anda mampu, orang akan melihat. Kalau memang hanya les di luar negeri, tapi hasilnya baik, kenapa tidak berbangga dan berkarya? Banyak orang yang saya kenal tidak memiliki gelar spesifik, namun luar biasa juga karyanya di dalam dan luar negeri, sungguh terhormat dan membanggakan. Berbanggalah dengan apapun yang Anda capai, karena itu buah keringat Anda. Apa sebegitu langkanya kejujuran, dan sesulit itu untuk hidup dan membangun karir dengan jujur? Apalagi dalam bermusik...

Apalah gunanya talenta dan ilmu kalau bukan untuk berbagi?
Lalu apa yang berguna dari berbagi kebohongan?

Sungguh, saya masih berharap bahwa ini sekedar kesalahpahaman. Sama seperti halnya saya yang masih mencari tempat, tapi disangka sudah bersekolah. Semoga kebohongan bukan menjadi niatan...dan tidak diteruskan dengan kebohongan lain...

AMIN.

Tuesday, February 7, 2012

Random

Jangan protes. Tiba-tiba pengen aja posting puisi lama. :p


lima menit sebelum aku mati

ingatkan aku pada daun-daun yang gemerisik di bukit yang hijau

saat lonceng berdentang di kejauhan

ceritakan lagi padaku bagaimana buih-buih bermain di pinggir pantai

saat matahari hendak bersembunyi di ujung langit

lima menit sebelum aku mati

gambarkan padaku suara anak-anak yang berlarian di kampung

dan nenek-kakek yang berjalan gembira bergandengan

tertawalah karena kenangan-kenangan yang memalukan,

senyum, dan airmata yang kita tumpahkan

lima menit sebelum aku mati

bisikkan padaku; seumur hidupku

aku telah menemukan

potongan-potongan Tuhan.


somewhere, 2011

Monday, January 23, 2012

Bermain Internasional

Suatu hari saya pernah mendengar kisah salah seorang konduktor besar di Indonesia, mengenai usahanya memajukan musik klasik Indonesia. Saat beliau berhadapan dengan para petinggi-petinggi kita, seringkali jawabannya kira-kira,
"Buat apa, toh kita punya musik daerah sendiri yang hebat dan perlu dilestarikan."

Dari sinilah pemikiran saya yang 'kepo' berkembang.

Seringkali saya merasa, bangsa kita ini menempatkan ego dan gengsi tidak pada tempatnya. Tidak dapat disangkal, bahwa kebudayaan Indonesia, termasuk seni musik, sangat kaya luar biasa. Namun apakah hal yang kita lakukan dalam satu aspek harus berarti mengabaikan aspek yang lain?

Saya akan mengambil contoh di bidang lain;
Seberapa bangganya Indonesia saat kita memenangkan olimpiade Fisika?
Seberapa bangganya Indonesia saat kita memenangkan Thomas/Uber Cup dalam bulutangkis?
Seberapa bersatunya Indonesia saat tim sepakbola kita menang berlaga melawan negara lain?

Apakah dengan memenangkan pertandingan bulutangkis kelas dunia, lantas berarti kita merendahkan sepak takraw?

Adalah suatu kebanggaan besar bila kita, sebagai bangsa, dapat mengekspos dan meng-'impor' kebudayaan khas kita secara internasional. Misalnya saat gamelan masuk dalam kurikulum studi musik di Belanda.
Akan tetapi ada banyak sekali bidang yang memang memiliki standar internasional...dan ada kalanya kita patut berkembang mengarah pada standar tersebut untuk kebanggaan dan menjadikannya salah satu 'aset' negara.

Perlu pula diingat, betapa industri kreatif adalah industri yang paling halus sekaligus paling efektif dalam mempromosikan Indonesia.
Contohnya, film Lord of The Rings, yang merupakan hasil shooting di New Zealand, dibuat oleh sutradara New Zealand (Peter Jackson), dan menggunakan berbagai fasilitas di New Zealand, kemudian menjadi ajang promosi New Zealand besar-besaran, hingga Peter Jackson pun mendapat penghargaan dari Perdana Menteri untuk mengharumkan nama negara.
Kenapa?
Karena semua orang bisa menonton film.
Semua orang bisa memahami film.
Di belahan dunia manapun.

Bukankah begitu pula halnya dengan musik?

Bayangkan efeknya, bila pemusik klasik dari Indonesia dapat memenangkan kompetisi internasional, atau misalnya orkestra Indonesia dapat bermain berdampingan dengan musisi klasik dunia. It's a lucrative possibility that many do not even consider. Alhasil, kemenangan dan keberhasilan musisi-musisi Indonesia di luar negeri pun, seakan tidak bergaung di Indonesia.

We have such a long way to go.
But if we never start, then we'll never be there.
Right? :)

Monday, January 16, 2012

Musik Klasik Untuk Semua

Tulisan ini saya buat karena 'tersentil' oleh sebuah pertanyaan dalam press-conference konser saya yang terakhir,

"Bagaimana tanggapan Anda terhadap anggapan bahwa musik klasik itu membosankan?"

Okeeeee.
Saya juga bingung harus mulai dari mana.

Definisi musik klasik sendiri, saya akan refer ke sini;
Classical music, strictly defined, means music produced in the Western world between 1750 and 1820. This music included opera, chamber music, choral pieces, and music requiring a full orchestra. To most, however, classical music refers to all of the above types of music within most time periods before the 20th century, and music created after 1900 that follows the style and tradition of the common practice period.
Begini;
Pertama,
musik klasik itu begitu luas. Sebegitu luasnya hingga saya yakin, there's always something for everybody. Contohnya, saya sendiri nggak suka banget sama lagu-lagu jaman Barok yang kebanyakan ornamen, kayaknya repot trus nggak cantik gitu. Nggak suka juga sama yang terlalu panjang sampai kayaknya nggak abis-abis. Bosan. Tapi saya suka banget Lieder atau tembang puitik, lagu-lagu yang dibuat dari puisi, terutama jaman Romantik, yang kadang bisa terdengar seperti lagu pop karena kordnya yang manis.

Yakin, nggak suka musik klasik? Atau, yakin nggak terpengaruh sama musik klasik?
Lagu Lullaby dari Brahms yang sering kita nyanyikan? (33 5 . 33 5 . 35 1 7 6 6 5 dst.)
Lagu Fuer Elise yang sering jadi bunyi bel rumah?
Lagu Figaro dari il Barbiere de Siviglia yang diputar di Tom and Jerry?
Ave Maria Bach?
Moonlight Sonata Beethoven?
Hallelujah Handel?
atau...
siapa yang nggak excited denger musik pembukaan film Star Wars?

Kedua,
musik klasik itu menurut saya bukan musiknya orang kaya, atau orang pintar saja. Musik klasik adalah musik yang bisa dinikmati oleh orang dengan pikiran terbuka alias open-minded. Karena kita harus mau sedikit memahami sebelum menikmati. So, kalo dateng ke sebuah konser dengan pikiran "Saya nggak mungkin suka", ya nggak mungkin bisa masuk.

Because there are some things that can only be expressed through music.
And sometimes to understand those things, we have to keep our other senses mute. Itu sebabnya dalam konser musik klasik, kita tidak boleh berisik, ngobrol, membunyikan handphone, dllsb. Bukan cuma untuk konsentrasi pemain, namun juga untuk menikmati pertunjukan itu sendiri.

Jadiiiii....

Saya bersikukuh bahwa "there's always a bit of something for everybody".
Musik klasik nggak selalu njelimet dan nggak bisa dipahami.
(yang sebetulnya bikin saya bingung juga kalo ada yang bilang gitu, bukannya musik jazz dan pop juga banyak yang njelimet dan bikin pusing ya?)

Just open your mind.
And enjoy.

N.B.: here are few things I think many people would enjoy. Feel free to open the links.
...I can't think...I'll add later. :p

Oh. And if you happen to wonder which period of classical music are you into, you might find it here --> Masterpiece - King's Singers :D


New Year Concert

I can't complain.
Like, really.

IT WAS SUCH A GREAT SHOW!!! *histeris*

*rewind*

Oke, rasanya penting untuk menceritakan proses konser ini sejak awal.
Saya nggak akan membahas soal lagu-lagu atau teknik...
because the whole process teaches me many things beyond the notes.
Kira-kira dua bulan yang lalu, teman saya, the harpist Rama Widi menelpon untuk menanyakan beberapa pertanyaan esensial. Setelah menjawab dan mengirimkan hal yang ia minta, ternyata kemudian saya mendapat berita bahwa...saya terpilih menjadi guest solist di New Year Concert yang menampilkan solis-solis dari Symphonia Vienna Orchestra.
*jantung pindah ke mata kaki*

Setelah proses pembantaian diri sendiri, tibalah hari di mana saya harus bertemu dengan para solis ini untuk berlatih. The moment I see them rehearse, I know this is going to be so interesting.

Pertama, untuk tampil di kedutaan Austria, mereka menyiapkan beberapa piece, salah satunya Schumann Klavierquintett (yang sukses menghantui saya hingga detik ini). Latihan yang cuma satu jam itu terlihat begitu intens, mereka membahas detail-detail yang penting dan saling memberi masukan.

Ketika akhirnya saya berkenalan dengan mereka (dengan posisi jantung di mata kaki), they are really really really nice! Full of positivity. Pada saat latihan untuk konser, mereka dengan rendah hati mau berdiskusi tentang berbagai hal dengan saya, seperti tempo dan penekanan, dan mau menerima hal-hal yang saya ajukan. Raffi (conductor) bicara langsung kepada saya secara privat mengenai detail yang ia inginkan terhadap beberapa not. I feel so respected! *norak*

Hal yang luar biasa dalam sesi latihan adalah bagaimana mereka semua mau berdiskusi dan bekerja keras untuk mencapai sebuah standar musik yang baik. Kadang diskusi menjadi tegang karena semua solis tsb (yang notabene adalah principal dari tiap alat) mau memberi masukan. Tapi perlu diingat, semua untuk musik. Bukan untuk ego.
Dan, setelah sesi latihan berakhir, tidak ada sedikit pun ketegangan. Mereka yang tadinya berdebat di sesi latihan, duduk bersama dan bercanda. PROFESIONAL. Diri mereka yang bekerja di dalam orkestra dipisahkan dari pertemanan mereka. This, I think need to be taken as example.

Next, the concert day.
I was so freaking nervous I could faint. REALLY!
I keep on texting my best friends and vocalizing like crazy.
I was shaking head to toe.
It was my first time singing with an orchestra,
my first time working with such well-known group,
my first time singing in that hall (and as Raffi told me; NO MICROPHONE!).

And this is the thing I want to share.
Sesaat sebelum masuk, saya dan Raffi berdampingan di backstage.
I whispered, "I am so nervous"
He asked me, smiling, "Why?"
And then he said, "Remember, you can always lean on us. The whole orchestra is there, for you. If anything ever happens, we have your back."

Kebayang nggak rasanya mendengar kata-kata itu dari the maestro?
Kebayang nggak betapa sebuah beban besar di pundak terasa lepas?

The moment we went on stage,
I feel that he's really there for me.
Setiap kali dia bernapas, dia memberi napas buat saya.
The whole hall seems silent, and I cannot think.
It's just me, the orchestra, with the music who connects us all, together with the audience. :)

*saya emang lebaaay tapi that's exactly how I felt*
After the concert, Raffi came to me and told me that yes, there are some parts where I should do this and that, but it's ok...I like the way he's being honest but still encouraging.
Dan syukurlah, tanggapan teman-teman ternyata positif banget! :)

The conversation behind the door before the concert will stay in my mind.
FOREVER.
Can you imagine how humble he is to say such thing?
Dan pada acara makan bersama berikutnya, saya pun berbicara dengan beberapa anggota orkestra dan mereka pun banyak memuji sekaligus memberi masukan, tanpa sedikit pun bernada nyinyir, menyindir, atau mengomeli saya.

Sekali lagi, we have to take this as an example.
Sering kita mengkritik orang dengan sikap merendahkan (yeah, me too), tapi mencontoh mereka, alangkah menyenangkannya bisa saling membangun dengan sikap positif!

Kenapa?

Because we are doing this for music and music only,
bukan karena saya solo, bukan karena kamu egois,
bukan karena dia cantik, bukan karena lebih gampang dimainkan begini...
Kita selayaknya punya standar dan patuh terhadap standar itu, bukannya menyesuaikan dengan keadaan. Bukannya pusing dengan gosip dan saling menjatuhkan.

Seringkali saya merasa (merasa nih ya), kita bermusik dengan kotor.
Kita semua seharusnya jadi instrumen. Musik itu harusnya berbicara langsung pada penonton, melalui kita. Bukan sebaliknya, kita jadi menggunakan musik untuk menampilkan ego kita kepada penonton. Belum lagi pikiran kita sering 'diracuni' dengan hal-hal yang tidak esensial, seperti ketidaksukaan terhadap teman dalam produksi itu, merasa solisnya tidak pantas, tidak suka lagunya, kostum, dan lain-lain...padahal, dari satu lagu saja, dibedah bertahun-tahun pun, masih selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan.

Ah.
Kalau saya bahas, saya juga jadi racun dong ya.
Nanti aja, di postingan lain (tetep Ms.Complain). :p

Well, the point is, I am so honoured to work with them and to share our passion for music together, of course my performance was far from perfect,
but I hope everybody enjoys the concert...

See you in the next one! :)

Wednesday, October 5, 2011

Boyband Ala-Ala

Sungguh, belakangan ini saya benar-benar ga...ga...ga kuat sama kehadiran berbagai boyband dan girlband di Indonesia yang konsepnya meniru Korea habis-habisan. Jangankan melihat penampilan live mereka, denger lagunya aja saya udah cenat-cenut. Kepala saya yang beneran cenat-cenut, rasanya seperti sakit gigi.

Saya bener-bener nggak habis pikir sama isi kepala para petinggi industri musik Indonesia yang melahirkan hal-hal semacam itu.

Pertama, kenapa sih harus meniru?
Gini, menurut saya, orang-orang Korea itu mukanya mirip. Suaranya juga mirip. Jujur, saya sih nggak bisa bedain satu sama lainnya kecuali rambutnya dicat warna-warni. Dan saya yakin mereka juga sadar akan itu...makanya kemudian mereka pun SEKALIAN membuat konsep di mana gerakannya sama persis seperti robot, atau karakternya dibedakan secara total supaya bisa diingat.

Nah kalau Indonesia? Jelas dari Sabang sampai Merauke wajahnya beda, karakternya beda, suaranya pun beragam warna, luar biasa kaya. Lha kok malah mau seragam-seragaman macam Korea? Ya mana bisa. Sana gih sekalian wajib militer.

Kedua, kalaupun mau meniru, mbok ya yang total.
Andai nggak sanggup jadi saingan grup yang mau ditiru, minimal KW-Super lah. Masa targetnya KW-3?

Boyband atau girlband itu, menurut saya ada tiga poin yang harus dilihat. Satu; suara, atau minimal lagunya enak. Apa kabar dengan ABThree dan Rida Sita Dewi dan Trio Libels yang suaranya bagus-bagus dan lagunya enak-enak tanpa konsep yang berlebihan? Dua; jago nari. Lihatlah boyband Korea macam Super Junior, dance-nya bagus kan? Di Indonesia penari yang bagus pun banyak, tapi tetep, yang dipakai mereka yang nggak bisa nyanyi dan narinya juga biasa-biasa aja. Trus apanya yang dijual? Tiga; konsepnya. Ingat Spice Girls, yang sangat menjual karakter masing-masing personilnya? Dari Baby Spice hingga Scary Spice?

Sekarang, saya bener-bener nggak habis pikir, kalau ada boyband atau girlband yang musiknya nggak bagus-bagus amat, suaranya jelas pas-pasan (dan akhirnya kalau live selalu lipsync), narinya juga nggak bagus, terus image personilnya pun nggak kuat.
JADI YANG DIJUAL APANYA DONG?

dan yang paling menyebalkan...
KOK MASIH ADA YANG BELI?
*mulai histeris*

Kenapa sih Indonesia nggak kembali ke 'what we are best at'?
Kalau bikin boyband atau girlband, kenapalah nggak bikin yang beneran bisa nyanyi dan nari (dan saya yakin banget ada BANYAK orang yang nyanyi dan narinya bagus), atau dengan karakter yang unik-unik, paling nggak satu grup rasnya beda-beda gitu kek...dan image-nya pun dibentuk multikultur...

Lagu-lagunya pun nggak usah niru-niru Korea-Jepang lah, Indonesia itu punya ciri sendiri, Anggun C.Sasmi di belahan dunia lain sana aja masih masukin unsur etnik Indonesia supaya punya ciri khas, yang di sini kok malah ngambil yang punya negara lain....aneh.

Kalau euforia boyband-girlband KW-3 Korea ini bertahan lama, sungguh deh...
NGGAAAAAK KUAAAAAAAAAT....

*muter lagu ABThree semaleman*