Friday, September 10, 2010

Kapan Nikah?

KAPAN NIKAH?
ehm...nggak tau.

TARGETNYA KAPAN?
ehm...
mmmm...
nanti...
kalo...
gue JATUH CINTA.

Hari ini Miss Complain akan melampiaskan kekesalan atas pertanyaan ini. Ijinkan saya menggunakan kata ganti orang pertama sesuka hati. Maklum, isinya juga curahan hati.

Gue bener2 nggak bisa memahami konsep "TARGET MENIKAH" yang dibicarakan orang2. Kalau gue punya target menikah umur 28, berarti gue harus sekuat tenaga mencari jodoh sekitar umur 26 dan siapapun yang ada di umur 28 harus gue nikahi dong, ga peduli dia sebetulnya cukup baik atau tidak, akan menjadi suami yang baik atau tidak, dia siap atau tidak, akan menjadi bapak yang baik atau tidak...yang penting gue umur 28! Gue harus menikah? Gitu apa gimana sih?

Oke, umur gue sekarang 23.
Udah cari duit dari SMA, udah lulus kuliah dengan IP cum laude, dan sekarang mau ambil kuliah S1 jurusan lain di luar negeri. Apa yang membuat gue harus menikah sih? Karena gue perempuan? Karena gue 23?

Seumur hidup, gue selalu disuruh mencari ilmu tinggi2. Kebetulan gue berada di lingkungan di mana kesuksesan tidak dilihat hanya dari materi, tapi juga pendidikan dan sikap hidup. I have tried to do my best. Dan sekarang di saat gue pengen sekolah lagi yang bener, mencapai standar hidup yang lebih tinggi, gue malah ditanya kenapa belum kepikiran menikah. Pertanyaan gue kebalik, kenapa kalo gue masih muda gue ga kepikiran untuk belajar?

Oke, kalo keluarga inti yang nanya, gue masih maklum. Kenapa? Karena nyokap gue single parent, dan dia udah cukup tua. Gue ngerti dia cuma pengen ada yang melindungi gue. Dia cuma ingin keamanan buat anaknya. Tapi yang lain?

Kenapa di saat gue mau kuliah di luar negeri, semua orang malah bilang, "Wah, nanti dapet pacar orang bule dong?"

EMANGNYA GUE PERGI KE LUAR NEGERI BUAT CARI JODOH?

Belajar aja belum becus!

If I want to build a family, I want to do it the right way.
I want my children to see their parents in love.
I want my children to know that their parents are ready for them.
I want my children to be happy, and know that they are loved.

Mungkin gue emang ga seperti perempuan kebanyakan, yang sangat menikmati kehidupan berkeluarga dan bahagia dengan itu. Belum. Yang jelas gue belum mau memikirkan kehidupan berkeluarga sendiri, karena gue mau mikirin diri sendiri dulu.

Am I selfish?

Sejak bokap gue ga ada (waktu gue SD), gue ikut mikirin soal keluarga. Gue inget waktu piano kesayangan gue terpaksa dijual juga karena masalah ekonomi. Trus gue bergulat dalam masa ABG gue untuk bersosialisasi, karena gue sering merasa depresi. Di SMA gue punya pacar, dan berakhir dengan tidak baik, dan setelah gue putus gue sadar bahwa gue telah membuang banyak waktu gue untuk menutup diri dan ga peduli sama hidup gue sendiri.

Jadi menurut gue wajar, untuk sekali ini gue mau berpikir untuk diri gue sendiri.

EMANGNYA BERKELUARGA GA BUTUH ENERGI?

Emang cukup dengan kata 'cinta' dan uang seadanya?
Lebih baik gue ga punya keluarga daripada punya keluarga dalam keadaan ga siap.
Emang anak-anak yang akan gue didik itu boneka?
Mereka kan punya jiwa raga, yang semuanya harus diurus dengan baik.
Emang suami gue itu pembantu, yang bisa ngurusin hidup gue terus?
Sebagai istri kan gue juga harus menopang suami, bukan ngomelin dia terus dan membuat hidup dia menderita dengan menggantungkan segalanya sama dia!
Menurut gue sih gitu yah, dan itu ga mungkin terjadi kalo hidup gue sendiri belum bener.

Menurut gue itu adalah masalah mendasar pernikahan. Bagaimana caranya bisa berbagi, kalau masing-masing belum membenahi dirinya sendiri? Yang ada pasangan akan saling menuntut, ada ketidakseimbangan dalam hubungan, perasaan dirugikan, perhitungan, dan kadang muncul parasitisme. Belum lagi begitu muncul anak. Kadang anak menjadi perekat keluarga, tapi tak jarang anak menjadi sumber masalah pasangan. Ketidaksiapan bisa jadi bumerang buat orangtua, atau lebih parah lagi; menghancurkan si anak. Anak itu tanggungjawab yang luar biasa besar; harus dididik dengan baik, dirawat, bukan hanya makanan dan sekolahnya, tapi juga kesehatan jiwanya. Berapa persen pelaku kriminal, kekerasan, dan penderita depresi berlatar belakang keluarga yang tidak baik?

Inilah yang sering membedakan pandangan orang Indonesia dan orang Eropa, misalnya. Di Indonesia, banyak yang bingung, kok bisa orang Eropa jarang yang mau punya anak? Kok egois? Sementara orang Eropa lebih bingung lagi, kok orang Indonesia ada yang mau punya anak banyak, tapi hidupnya pas-pasan?

Buat gue, yang penting itu kualitas hidup.
Normal belum tentu baik.
Punya anak 2-3, penghasilan 7-8 juta per bulan, hidup pas2an...itu normal di Indonesia. Tapi apa baik? Apa anak2 itu mendapat pendidikan baik? Gizi cukup? Apa pasangan itu bahagia? Apa keluarga itu berkembang dengan baik?

I am so sick of this marriage question, and I am just 23, for goodness sake.
I am just learning to love my own life.

Lagian konsep 'perempuan kebanyakan' itu apa sih?
Apa gue harus menekan ego gue sedikit untuk ga bersaing sama laki-laki, supaya mereka bisa lebih nyaman bersama gue, dan gue jadi bisa dapet pacar?
Apa gue harus berusaha ga punya pendapat dalam segala hal, supaya laki2 bisa menentukan sikap gue, trus gue jadi bisa dapet pacar?

Gue ga keberatan merubah diri gue ke arah yang lebih baik, seperti lebih bersikap sopan atau memahami situasi. Tapi jangan suruh gue berubah demi dapet pacar. Even the thought of it sickens me.

Apa gunanya perjuangan Ibu Kartini, kalo akhirnya perempuan dijebak dalam stereotip yang sama dan dipaksa menikah, di saat kita dijejali dengan ide 'cita-cita'?
Sekalian aja, tanamkan di benak kami bahwa perempuan pantasnya menikah umur 20 tahun dan tidak ada hal lain yang lebih baik.
Jangan tanamkan ide 'belajar' dan 'berkembang', kalau akhirnya kami harus tetap melakukan segala-galanya demi laki-laki.

Of course I still want to have a family on my own.

Tapi ya ga sekarang dong!
GOUSH.
Kepo banget sih orang Indonesia!
Urusin keluarga sendiri dulu deeeeehhhhh....


*Miss Complain yang lagi curhat dan kesel banget*

1 comments:

electrum said...

baru ini liat org curhat di blog nya dgn sgt berapi2..hehe.. keep complaining, miss complain. wish u good solution for your troubles..

Post a Comment